Solo kota dengan budaya tingkat tinggi

Solo kota kami dilahirkan dan dibesarkan sampai saat ini. Kota dengan kebudayaan tingkat tinggi, karena hampir keseluruhan kota dibangun berdasarkan tingkah laku warganya. Sopan santun merupakan tolak ukur dalam penilaian seseorang di kota tercinta ini.

Berangkat dari kebudayaan segala aspek sangat terpengaruh oleh faktor ini. Bila Anda berkunjung kekota solo, kebanyakan akan berjumpa dengan kuliner atau masakan yang mengundang selera. Karena masakan merupakan hasil dari kebudayaan warga surakarta yang dominan.

Berikut akan kami sampaikan tentang seluk beluk warga solo dan kulinernya. Semoga bisa jadi acuan saat berada di kota the spirit of java ini.

Wisata kuliner solo di Warung Dlidir

Wisata kuliner solo di Warung Dlidir spesialis masakan kambing. Tengkleng Solo Dlidir berdiri sejak tahun 2001 yang lalu. Dengan berbekal pengalaman tersebut kami yakin bisa menghadirkan masakan serba kambing Untuk Anda.
Kuliner solo pilihan spesial untuk wisata Anda. Wisata kuliner solo Enak dan Harga Terjangkau. ‘Monggo pinarak’ ke warung kami, tengkleng solo Bu jito dlidir. “Dalem” ingin menawarkan kepada Anda masakan khas solo yang legendaris. Apalagi kalau bukan tengkleng kambing asli solo.

Untuk Setiap porsi kami banderol dengan harga Rp 20.000. Sedangkan sate buntel presiden Rp 15.000 bonus nasinya. Terjangkau kan?. Kualitas rasa dijamin asli dan ‘ Ndupak telak ‘ orang jawa bilang.
Tidak di situ saja, kami juga menawarkan jasa pengiriman masakan tengkleng solo, sate buntel dan tengkleng rica – rica sampai ditempat anda. Sehingga Anda hanya perlu melakukan pemesanan kepada kami dan tugas anda selanjutnya hanya mengundang para saudara juga kolega – kolega anda. Ini untuk layanan Antar tengkleng solo.

Kuliner solo warung tengkleng bu jito dlidir

Bagi Anda yang ingin menikmati wisata kuliner solo di warung dlidir, kami menyediakan menu istimewa berupa tengkleng solo. Tengkleng adalah masakan sejenis sup dengan bahan utama daging dan tulang kambing ( balungan kambing kalau orang solo bilang ). Masakan ini berasal dari Solo dan sudah menjadi ikon kuliner solo. Bentuk fisik dari dari tengkleng hampir mirip dengan gulai kambing , tetapi kuahnya lebih encer dengan bumbu rempah – rempah khas nusantara. Tengkleng dlidir merupakan salah satu Makanan khas jawa dengan sensasi kelezatan rasa klasik.

Tengkleng kambing solo bu jito dlidir memang istimewa. Nyaris tak ada aroma prengus kambing. Aroma prengus biasanya berasal dari bulu-bulu di kepala kambing yang terkadang masih tersisa. Oleh karena itu, sebelum dicuci dengan air, kepala kambing kami rebus, kemudian dikerok, dibakar dan dikerik lagi hingga benar-benar tidak ada sisa rambutnya.

Demikian pula dengan kaki kambing. Kami perlakukan sama seperti kepalanya. Sehingga menjadi makanan kuliner unik, sederhana dan lezat. Yang layak untuk Anda nikmati bersama keluarga.

Ikon kuliner solo yakni tengkleng

Tengkleng kambing solo merupakan masakan tradisional nusantara spesialis kambing. tengkleng dibuat oleh masyarakat asli penduduk surakarta dengan bahan-bahan bumbu minim tapi menghasilkan citarasa yang maksimal.

Sebuah masakan yang kaya akan makna tradisi kearifan lokal. Rasa kuah tengkleng kambing gurih-asam-manis-asin yang berasal dari campuran belasan bumbu rempah pilihan terbaik seperti lengkuas, serai, kemiri, kunyit, bawang merah, bawang putih, daun salam, ketumbar, lengkuas, dan sebagainya.

Bumbu-bumbu tersebut direbus hingga berjam-jam bersama tulang belulang kambing, termasuk bagian tengkoraknya. Tidak heran bila bumbunya meresap hingga ke tulang. Daging maupun kikil yang masih menempel itu pun lebih empuk ketimbang daging kambing yang dimasak sate atau gule.

Untuk Info Atau pemesanan sms :

0857 2524 4787 Pak Soleh

Atau bisa juga telpon warung dlidir :

0271 855 267

lokasi Kuliner solo legendaris tengkleng

Warung tengkleng Bu Jito Dlidir Berlokasi di Jalan Kolonel sugiyono 67 solo, menjadikannya warung makan atau restauran yang strategis. Mengapa strategis?, Menurut hemat kami tempat untuk makan itu tenang, sehingga selain bisa menikmati masakan hidangan, juga bisa nyaman dari suara kebisingan lalu lintas. Sementara warung tengkleng bu jito dlidir pas, yaitu Aman, Nyaman dan memuaskan Anda dalam wisata kuliner solo.

Berbagai masakan perkambingan tersedia di warung dlidir. Bagi Anda yang ingin wisata kuliner solo, belum terasa berada di solo kalau belum datang ke warung tengkleng dlidir. Menu masakan dlidir berupa sate buntel presiden, tengkleng solo spesial, tongseng daging, tongseng tengkleng, gulai kambing dan sate bakar khas solo. Semuanya tersedia secara lengkap di warung kami.

Berikut kami jelaskan berbagai masakan yang ada di warung tengkleng solo dlidir. Untuk memuaskan dahaga Anda akan wisata kuliner solo yang melegenda. Sehingga dengan spesifik bisa membedakan jenis masakanya.

Kuliner solo legendaris tengkleng

Point yang pertama yakni tengkleng solo. Tengkleng solo merupakan masakan sejenis sup dengan kuah encer dan yang pasti menggunakan rempah – rempah khas tanah jawa. Untuk bahan utamanya berasal dari tulang belulang kambing. Tulang tersebut berupa tulang kepala dan kaki yang terbagi menjadi kecil – kecil seperti pipi, lidah, mata, lidah bagian atas, kuping dan otak kambing yang dibungkus menggunakan daun pisang.

Bagi Kami memasak tengkleng solo tidak sekedar menggarap bahan tulang-belulang, memberi bumbu lalu menghidangkan hasilnya. Namun memasak tengkleng solo bagi kami adalah sebuah rangkaian komperehensif segala fikiran, tenaga dan sejarah panjang yang tersinergikan dalam menghasilkan masakan tengkleng khas solo. Menggali kekayaan intelektual akan masakan nusantara khas solo dengan cara yang unik.

Bagi anda para pejabat negara, kurang lengkap bila belum mencicipi tengkleng solo. Dengan merasakan tengkleng solo diharapkan bisa mengerti rasa perjuangan para pejuang kemerdekaan bangsa indonesia dalam memperoleh kemerdekaan. Sebuah masakan yang penuh dengan gagasan ide mempersatukan nusantara.

Kuliner solo sate buntel

Yang kedua ialah sate buntel presiden. Sate buntel presiden adalah penamaan dari saya sendiri ( mudzakir ) karena rasa berkualitas dan harga yang hemat. Bahan dasar pembuatan sate buntel presiden adalah daging kambing yang dicincang. Daging cincang adalah daging yang dicacah menggunakan pisau hingga lembut atau bisa pula dengan jalan digiling. Sehingga menghasilkan tekstur yang sempurna karena ada sedikit urat disetiap tusuknya. Urat kambing tersebut berasal dari tendon yang menyatu dengan daging.

Untuk wisata kuliner solo Rp 15.000 per porsi Anda sudah bisa menikmatinya. Karena memang sate buntel presiden dengan harga yang ‘blusukan’ bisa menyentuh kerinduan anda akan kuliner solo. Cara menikmatinya makan dengan pelan – pelan plus menghirup aroma khas yang hangat. Apalagi bila Anda doyan dengan lombok dan bawang, aromanya begitu menggugah selera.

Sengaja kami menyajikan tengkleng solo dan sate buntel presiden secara bersamaan sebagai masakan andalan kami. Sajian tulang khas rakyat kecil plus bakaran presiden duduk bersama di warung dlidir. Dua elemen penting yang membangun negara perkambingan Indonesia. Bagi semua kalangan bisa menikmati hidangan penuh selera di warung tengkleng solo dlidir. Rakyat kecil, anggota dewan, pejabat pemrintahan maupun presiden wajib mencicipi kedua masakan tersebut, masakan yang jadi saksi bisu sejarah perjuangan bangsa ini. Simpel, unik, minimalis tapi menghasilkan wisata kuliner solo maksimal.

Kuliner solo tongseng

Untuk poin yang ketiga adalah tongseng kambing. Tongseng kambing merupakan masakan sejenis gulai dengan bumbu yang lebih “tajam”. Warung tengkleng bu jito dlidir siap menampung dahaga anda akan masakan tongseng kambing spesial. Dengan dedikasi kami dibidang perkambingan yang hampir setengah abad, siap memberikan rasa tongseng berkualitas.

Perbedaan yang lebih jelas antara tongseng dan gule adalah pada penggunaan dagingnya. Tongseng dibuat dengan menggunakan daging murni yang sedangkan gulai dari jerohan. Untuk bumbu tajamnya bisa berasal dari kecap, sehingga berwarna agak kecoklatan.

Dan pada bahasan kali ini gulai kambing menjadi yang terakhir. Sebenarnya ada pula sop buntuk dan rica – rica tengkleng di warung kami. Karena saya ( mudzakir ) belum faham tentang masakan tersebut, akan dibahas pada kesempatan berikutnya.

Gulai kambing diolah dalam kuah bumbu rempah yang bercitarasa gurih. Ciri utama yang khas gulai ada pada bumbunya yang kaya rempah. Rempah – rempah tersebut antara lain kunyit, ketumbar, lada, lengkuas, jahe, cabai merah, bawang merah, bawang putih, adas, pala, serai, kayu manis dan jintan yang dihaluskan, dicampur, kemudian dimasak dalam santan.

Masakan ini memiliki ciri khas berwarna kuning karena pengaruh sari kunyit. Makanan ini dianggap sebagai bentuk lain dari kari, dan secara internasional sering disebut sebagai kari ala Indonesia. Meskipun dalam seni kuliner Indonesia juga ditemukan masakan kari. Gulai kambing di tempat kami dibanderol Rp 5.000 untuk satu porsinya. Sehingga Anda bisa berkuliner ria untuk menikmatinya.

Untuk info atau pesan wisata kuliner solo bisa telpon :

0271 855 267 warung tengkleng solo dlidir

0857 2524 4787 Pak Soleh

Wisata kuliner solo lainnya yang bisa memanjakan perut Anda. Ada banyak sebenarnya wisata kuliner solo, karena hampir disemua kampung menjajakan masakan yang khas. Berikut wisata kuliner solo lainnya.

Wisata kuliner solo Enak Harga Terjangkau cabuk

Kuliner solo cabuk rambak

Cabuk rambak di manahan dan di purwosari yang masuk wilayah sondakan. Cabuk rambak jadi kudapan populer bagi warga Solo. Selain jadi pilihan menu sarapan, cabuk rambak termasuk jenis camilan yang enak disantap saat pagi, siang maupun malam hari. Disajikan dengan pincuk yaitu wadah yang terbuat dari daun pisang yang segar.

Cabuk rambak terdiri dari ketupat yang diiris tipis-tipis, sambal wijen, dan karak gurih. Setiap pagi, ibu-ibu penjaja cabuk rambak bisa ditemui di sekitaran Stadion Manahan Solo dan ada pula di sondakan purwosari. Harganya juga bersahabat, suasana di kedua tempat tersebut terpantau aman dan nyaman dengan sedikit bising lalu lintas saudara kita.

Wisata kuliner solo Enak Harga Terjangkau tumpang

Kuliner solo sambal tumpang

Selanjunya tentang wisata kuliner solo adalah Sambal Tumpang di Warung Pecel Bu Kis. Sekilas Warung Pecel Bu Kis nampak seperti warung-warung pecel lainnya. Namun, warung pecel ini punya satu menu andalan: sambel tumpang. Punya cita rasa gurih, manis, dan sedikit pedas, sambal tumpang nikmat disantap dengan nasi hangat atau bubur beras yang ditambah bayam segar dan tauge.

Warung Pecel Bu Kis buka setiap hari mulai jam 07.00 pagi hingga jam 2 siang. Letaknya tepat di belakang Pengadilan Negeri Solo dan dekat dengan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah. Lokasinya nyaman karena masuk kampung, harganya pun demikian, nilai plus untuk warung pecel bu kis. Sekarang buka pula di purwosari, sebelum perlintasan kereta api dari arah kartasura.

Wisata kuliner solo Enak Harga Terjangkau pecel

Kuliner solo pecel ndeso

Wisata kuliner solo lainnya Pecel Ndeso di daerah stadion manahan pasopati. Berjajar 3 hingga 4 ibu – ibu menjual pecel ndeso di stadion manahan. Tepatnya di bagian pintu belakang atau dekat kolam renang tirtomoyo. Harga satu porsi sangatlah terjangkau, dulu Rp 3.000 perporsinya, sekarang saya kurang tahu. Intinya terjangkau dan suasana plus rasanya cukup merakyat.

Wisata kuliner solo Enak Harga Terjangkau galabo

Kuliner solo galabo di gladak

Untuk wisata kuliner solo malam hari yakni kumpulan warung di Galabo terletak di gladak atau ujung jalan slamet riyadi. Berbagi masakan tersedia ditempat ini secara komplit. Harga plus suasananya solo banget yaitu merakyat dan spesial. Mulai dari minuman hingga makananya begitu mencerminkan wong solo. Anda bisa mencari tempat duduk sendiri untuk menikmati masakan yang anda pesan.

Wisata kuliner solo Enak Harga Terjangkau jurug

Ada pula lokasi yang terstruktur seperti galabo yakni wisata kuliner solo pucang sawit. Beralamatkan didepan pasar pucang sawit dekat jembatan jurug. Harga murah plus berbagai kuliner khas solo tersedia di tempat ini.

wisata kuliner solo bestik

Satu lagi masakan wisata kuliner solo yang bisa ‘keplek ilat’ ataupun sekedar ‘dupak telak’ yakni besti. Hampir di ruas utama jalan di solo memanjakan Anda dengan masakan yang satu ini. Bestik adalah makanan yang biasanya terdiri dari daging sapi maupun lidah sapi spesial yang dicampur dengan wortel, buncis, selada, kenthang goreng dan mentimun. Sekilas mirip dengan selat solo, dengan perbedaan kuahnya seperti semur.

Tips n trik ketika menikmati wisata kuliner solo bestik. Untuk lebih hemat dan porsi masuk perut lebih nyaman, beli satu porsi dengan 2 nasi untuk 2 porsi. Tips ini efisien, karena 1 porsi bestik bisa untuk dua orang saking banyaknya.

Wisata kuliner solo nasi liwet

Kuliner solo nasi liwet nan gurih

Nasi liwet merupakan salah satu wisata kuliner solo yang khas. Nasi liwet adalah nasi gurih yakni dimasak dengan kelapa mirip nasi uduk, yang disajikan dengan sayur labu siam, suwiran ayam atau daging ayam dipotong kecil-kecil dan areh semacam bubur gurih nan lezat dari kelapa.

Penduduk kota Solo biasa memakan nasi liwet setiap waktu. Mulai dari untuk sarapan sampai sajian penutup makan malam. Nasi liwet biasa dijajakan keliling dengan bakul bambu oleh ibu-ibu yang menggendongnya tiap pagi atau dijual di warung lesehan atau tanpa kursi. Tempat paling terkenal untuk penjualan nasi liwet yang lesehan adalah di daerah Keprabon dan purwosari yang hanya berjualan pada malam hari. Ada pula yang jualan berjajar di stadiun manahan bagian pintu belakang. Sentra pedagang nasi liwet banyak dijumpai di Desa Duwet dan Menuran Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo. Dominasi penjual nasi liwet adalah keluarga yang turun – temurun.

Wisata kuliner solo gempol pleret

Kuliner solo es gempol pleret

Es Gempol pleret adalah minuman dari gempol atau pleret dengan kuah berupa santan, dan gula cair. Kata gempol berarti adonan dari tepung beras yang dibentuk dan akhirnya dikukus. Gempol disiram dengan santan dan gula, dan seringkali ditambah es. Usahakan menikmati gempol pleret yang menggunakan gula murni. Kenikmatan akan bertambah ketika menggunakan gula murni tanpa tambahan bahan lainnya. Anda bisa menjumpai di bannyak sudut kota solo. wisata kuliner solo ini dijumpai di jalan wahidin solo, widuran dekat radio ptpn dan jalan slamet riyadi sekitaran pajang.

Kuliner solo bakmi toprak

Dijalan wahidin nomor 34 surakarta selain menyajikan gempol pleret juga tersedia bakmi toprak dan tahu acar. Bakmi toprak juga merupakan wisata kuliner solo yang khas. Bakmi toprak merupakan masakan yang memiliki kuah bening seperti soto pada umumnya. Bahan – bahan yang ada pada masakan ini berupa bakmi, tahu, tempe irisan daging sapi, kacang goreng dengan taburan kubis kecil – kecil. untuk lebih jelasnya berikut video kuliner bakmi solo toprak dan gempol pleret.

Wisata kuliner solo Enak Harga Terjangkau yu rebi

Kuliner solo sate kere yu rebi

Yang tak kalah ketinggalan adalah Sate kere yu rebi . Sate kere merupakan sate yang menggunakan bahan dari gembus ( sari tahu ). Dengan bumbu kacang yang gurih nan lezat, empuk saat digigit. Tersedia pula sate yang berbahan dasar dari kikil sapi murni. Urusan harga dijamin tidak merogoh kocek Anda terlalu dalam. Beralamatkan di belakang sriwedari ( mbusri – mburi sriwedari ), menghasilkan suasana yang nyaman dengan lahan parkir yang luas.
Wisata kuliner solo tahu kupat

Kuliner solo tahu kupat

Wisata kuline solo tahu kupat di dekat masjid solihin. Selain harga yang murah, kualitas rasanya pun ciamik. Anda bisa memesan dengan atau tanpa telor ayam sebagai pelengkapnya. Berbeda dengan di daerah lain, tahu kupat di sekitar solo memiliki citarasa perpaduan manis, gurih dan asin. Sehingga lebih dekat dengan lidah pecinta kuliner jawa. Terletak di sepanjang jalan gajah mada, solo.

wisata kuliner solo gedhang girang

Kuliner solo gedhang girang

Gedhang girang solo untuk kuliner selanjutnya. Berlokasi di Jl Tirtosari No. 4 Purwonegaran daerah depan sriwedari. Menyajikan makanan dan minuman yang menyehatkan ala pisang. Meski telah dicampur dengan bermacam bahan lainnya, rasa dan aroma pisang tetap terasa. Manisnya es krim cokelat yang telah meleleh semakin menambah nikmat es gedhang girang.
Pemilik Kedai Gedhang Girang, Imron Sungkar, mengatakan bermacam kuliner pisang tersebut diluncurkan agar masyarakat lebih familiar terhadap buah tersebut.

Harganya pun cukup terjangkau, Kudapan nugget pisang tiramisu tersebut dijual seharga Rp8.000 untuk satu porsi. Selain tiramisu, nugget pisang tersebut juga tersedia dengan rasa green tea, coklat, stroberi, cappuccino, blueberry, dan vanilla. Nugget pisang tersebut juga bisa dikombinasikan dengan ekstra topping keju, almond, meses, dan oreo.

Untuk selanjutnya akan kami bahas dalam tulisan ini terus menerus. Sehingga tertata rapi dalam daftar tempat kuliner di solo. Untuk info tempat kuliner di solo tengkleng dlidir bisa sms atau telpon ke :

0857 2524 4787 Pak Soleh via sms
0271 855 267 warung dlidir via phone.

Solo menurut literatur yang sudah ada

Solo menurut literatur yang sudah ada, kami ambilkan dari wikipedia. Mengenal sedikit tentang kota ini melalui tulisan memang belum sepenuhnya memuaskan. Untuk memahami lebih dekat, Anda bisa langsung datang atau sekedar wisata ke kota budaya ini.

Kota Surakarta juga disebut Solo atau Sala, adalah wilayah otonom dengan status kota di bawah Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Dengan penduduk 503.421 jiwa (2010) dan kepadatan 13.636/km2. Kota dengan luas 44 km2, ini berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan.

Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo. Bersama dengan Yogyakarta, Surakarta merupakan pewaris Kesultanan Mataram yang dipecah melalui Perjanjian Giyanti, pada tahun 1755.

Nama surakarta atau solo

“Sala” adalah satu dari tiga dusun yang dipilih oleh Sunan Pakubuwana II atas saran dari Tumenggung Hanggawangsa, Tumenggung Mangkuyudha, serta komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff, ketika akan mendirikan istana baru, setelah perang suksesi Mataram terjadi di Kartasura.

Pada masa sekarang, nama Surakarta digunakan dalam situasi formal-pemerintahan, sedangkan nama Sala/Solo lebih merujuk kepada penyebutan umum yang dilatarbelakangi oleh aspek kultural. Kata sura dalam Bahasa Jawa berarti “keberanian” dan karta berarti “makmur”, sebagai sebuah harapan kepada Yang Maha Kuasa.

Dapat pula dikatakan bahwa nama Surakarta merupakan permainan kata dari Kartasura. Kata sala, nama yang dipakai untuk desa tempat istana baru dibangun, adalah nama pohon suci asal India, yaitu pohon sala (Couroupita guianensis atau Shorea robusta).

Sejarah solo

Masa pra-kemerdekaan
Eksistensi kota ini dimulai di saat Sunan Pakubuwana II, raja Kesultanan Mataram, memindahkan kedudukan raja dari Kartasura ke Desa Sala, sebuah desa yang tidak jauh dari tepi Bengawan Solo, karena istana Kartasura hancur akibat serbuan pemberontak. Sunan Pakubuwana II membeli tanah dari lurah Desa Sala, yaitu Kyai Sala, sebesar 10.000 ringgit (gulden Belanda) untuk membangun istana Mataram yang baru.

Secara resmi, istana Mataram yang baru dinamakan Keraton Surakarta Hadiningrat dan mulai di tempati tanggal 17 Februari 1745. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surakarta. Perjanjian Giyanti yang ditanda-tangani oleh Sunan Pakubuwana III, Belanda, dan Pangeran Mangkubumi pada 13 Februari 1755 membagi wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Selanjutnya wilayah Kasunanan Surakarta semakin berkurang, karena Perjanjian Salatiga yang diadakan pada 17 Maret 1757 menyebabkan Raden Mas Said diakui sebagai seorang pangeran merdeka dengan wilayah kekuasaan berstatus kadipaten, yang disebut dengan nama Praja Mangkunegaran. Sebagai penguasa Mangkunegaran, Raden Mas Said bergelar Adipati Mangkunegara I.

Daerah Istimewa Surakarta atau solo

Kekuasaan politik kedua kerajaan ini dilikuidasi setelah berdirinya Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Selama 10 bulan, Surakarta berstatus sebagai daerah istimewa setingkat provinsi, yang dikenal sebagai Daerah Istimewa Surakarta.

Karesidenan Surakarta
Selanjutnya, karena berkembang gerakan antimonarki di Surakarta serta kerusuhan, penculikan, dan pembunuhan pejabat-pejabat DIS, pada tanggal 16 Juni 1946 pemerintah membubarkan DIS dan menghilangkan kekuasaan raja-raja Kasunanan dan Mangkunegaran. Status Susuhunan Surakarta dan Adipati Mangkunegaran menjadi rakyat biasa di masyarakat dan keraton diubah menjadi pusat pengembangan seni dan budaya Jawa.

Kemudian Surakarta ditetapkan menjadi tempat kedudukan dari residen, yang memimpin Karesidenan Surakarta (Residentie Soerakarta) dengan luas daerah 5.677 km². Karesidenan Surakarta terdiri dari daerah-daerah Kota Praja Surakarta, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Klaten, Kabupaten Boyolali. Tanggal 16 Juni 1946 diperingati sebagai hari jadi Pemerintah Kota Surakarta era modern.

Kota Solo

Setelah Karesidenan Surakarta dihapuskan pada tanggal 4 Juli 1950, Surakarta menjadi kota di bawah administrasi Provinsi Jawa Tengah. Semenjak berlakunya UU Pemerintahan Daerah yang memberikan banyak hak otonomi bagi pemerintahan daerah, Surakarta menjadi daerah berstatus kota otonom.

Geografi dan administrasi

Hidrogeologi solo

Surakarta terletak di dataran rendah di ketinggian 105 m dpl dan di pusat kota 95 m dpl, dengan luas 44,1 km2 (0,14 % luas Jawa Tengah). Surakarta berada sekitar 65 km timur laut Yogyakarta, 100 km tenggara Semarang dan 260 km barat daya Surabaya serta dikelilingi oleh Gunung Merbabu (tinggi 3145 m) dan Merapi (tinggi 2930 m) di bagian barat, dan Gunung Lawu (tinggi 3265 m) di bagian timur. Agak jauh di selatan terbentang Pegunungan Sewu.

Tanah di sekitar kota ini subur karena dikelilingi oleh Bengawan Solo, sungai terpanjang di Jawa, serta dilewati oleh Kali Anyar, Kali Pepe, dan Kali Jenes. Mata air bersumber dari lereng gunung Merapi, yang keseluruhannya berjumlah 19 lokasi, dengan kapasitas 3.404 l/detik. Ketinggian rata-rata mata air adalah 800-1.200 m dpl. Pada tahun 1890 – 1827 hanya ada 12 sumur di Surakarta. Saat ini pengambilan air bawah tanah berkisar sekitar 45 l/detik yang berlokasi di 23 titik. Pengambilan air tanah dilakukan oleh industri dan masyarakat, umumnya ilegal dan tidak terkontrol.

Sampai dengan Maret 2006, PDAM Surakarta memiliki kapasitas produksi sebesar 865,02 liter/detik. Air baku berasal dari sumber mata air Cokrotulung, Klaten (387 liter/detik) yang terletak 27 km dari kota Solo dengan elevasi 210,5 di atas permukaan laut dan yang berasal dari 26 buah sumur dalam, antara lain di Banjarsari, dengan total kapasitas 478,02 liter/detik. Selain itu total kapasitas resevoir adalah sebesar 9.140 m3.Dengan kapasitas yang ada, PDAM Surakarta mampu melayani 55,22% masyarakat Surakarta termasuk kawasan hinterland dengan pemakaian rata-rata 22,42 m3/bulan.

Tanah di Solo bersifat pasiran dengan komposisi mineral muda yang tinggi sebagai akibat aktivitas vulkanik Merapi dan Lawu. Komposisi ini, ditambah dengan ketersediaan air yang cukup melimpah, menyebabkan dataran rendah ini sangat baik untuk budidaya tanaman pangan, sayuran, dan industri, seperti tembakau dan tebu. Namun, sejak 20 tahun terakhir industri manufaktur dan pariwisata berkembang pesat sehingga banyak terjadi perubahan peruntukan lahan untuk kegiatan industri dan perumahan penduduk.

Iklim dan topografi solo

Menurut klasifikasi iklim Koppen, Surakarta memiliki iklim muson tropis. Sama seperti kota-kota lain di Indonesia, musim hujan di Solo dimulai bulan Oktober hingga Maret, dan musim kemarau bulan April hingga September. Rata-rata curah hujan di Solo adalah 2.200 mm, dan bulan paling tinggi curah hujannya adalah Desember, Januari, dan Februari.

Suhu udara relatif konsisten sepanjang tahun, dengan suhu rata-rata 30 derajat Celsius. Suhu udara tertinggi adalah 32,5 derajat Celsius, sedangkan terenda adalah 21,0 derajat Celsius. Rata-rata tekanan udara adalah 1010,9 MBS dengan kelembaban udara 75%. Kecepatan angin 4 Knot dengan arah angin 240 derajat.

Batas-batas administrasi Solo

Kota Surakarta terletak di antara 110 45` 15″ – 110 45` 35″ Bujur Timur dan 70` 36″ – 70` 56″ Lintang Selatan dan berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan.

Di masing-masing batas kota terdapat Gapura Kasunanan yang didirikan sekitar tahun 1931–1932 pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwana X di Kasunanan Surakarta. Gapura Kasunanan didirikan sebagai pembatas sekaligus pintu gerbang masuk ibu kota kerajaan (Kota Surakarta) dengan wilayah sekitar. Gapura Kasunanan tidak hanya didirikan di jalan penghubung, namun juga didirikan di pinggir sungai Bengawan Solo yang pada waktu itu menjadi dermaga dan tempat penyeberangan (di Mojo/Silir).

Ukuran Gapura Kasunanan terdiri dari dua ukuran yaitu berukuran besar dan kecil. Gapura Kasunanan ukuran besar didirikan di jalan besar. Gapura Kasunanan ukuran besar bisa dilihat di Grogol (selatan), Jajar (barat), dan Jurug (timur). Sedangkan Gapura Kasunanan ukuran kecil bisa dilihat di daerah RS Kandang Sapi (utara), jalan arah Baki di Solo Baru (selatan), Makamhaji (barat), dan di Mojo/Silir. Gapura Kasunanan besar juga memiliki prasasti waktu pendirian gapura.

Pembagian administratif solo

Kota Surakarta dan kabupaten-kabupaten di sekelilingnya, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, secara kolektif masih sering disebut sebagai eks-Karesidenan Surakarta. Surakarta dibagi menjadi 5 kecamatan yang masing-masing dipimpin oleh seorang camat dan 51 kelurahan yang masing-masing dipimpin oleh seorang lurah. Kelima kecamatan di Surakarta adalah:

Kecamatan Pasar Kliwon (57110): 9 kelurahan
Kecamatan Jebres (57120): 11 kelurahan
Kecamatan Banjarsari (57130): 13 kelurahan
Kecamatan Lawiyan (disebut juga Laweyan, 57140): 11 kelurahan
Kecamatan Serengan (57150): 7 kelurahan

Kota satelit
Surakarta dan kota-kota satelitnya (Kartasura, Solo Baru, Palur, Colomadu, Baki, Ngemplak) adalah kawasan yang saling berintegrasi satu sama lain. Kawasan Solo Raya ini unik karena dengan luas kota Surakarta sendiri yang hanya 44 km persegi dan dikelilingi kota-kota penyangganya yang masing-masing luasnya kurang lebih setengah dari luas kota Surakarta dan berbatasan langsung membentuk satu kesatuan kawasan kota besar yang terpusat.

Solo Baru (Soba) merupakan kawasan yang dimekarkan dari kota Solo.[butuh rujukan] Solo baru selain sebagai salah satu kota satelit dari Kota Surakarta juga merupakan kawasan permukiman bagi para pekerja atau pelaku kegiatan ekonomi di kawasan Kota Surakarta. Di Solo Baru banyak terdapat perumahan sedang dan mewah, maka dari itu Solo Baru juga merupakan kawasan permukiman elit. Di Solo Baru juga terdapat pasar swalayan Carrefour. Pandawa waterboom yang merupakan waterboom terbesar di Jawa Tengah dan Yogyakarta terdapat di kawasan ini. Meskipun termasuk dalam wilayah Kabupaten Sukoharjo tetapi secara ekonomi dan politis Solo Baru lebih dekat ke Kota Surakarta, karena letak wilayah kotanya yang langsung berbatasan dengan Kota Surakarta, bahkan pernah ada wacana tentang penggabungan wilayah wilayah kota satelit di sekitar Surakarta termasuk Solo Baru untuk dimasukkan ke dalam wilayahnya. Luas wilayah Kota Surakarta beserta wilayah-wilayah kota penyangganya saat ini sekitar 150 km² dengan jumlah penduduknya sekitar 1 juta jiwa.

Pemerintahan solo

Surakarta terletak di Provinsi Jawa Tengah. Sebelum bergabung dengan Indonesia, Surakarta diperintah oleh Susuhunan Surakarta dan Adipati Mangkunegaran. Semasa dikuasai oleh Belanda, Surakarta dikenal sebagai sebuah Vorstenland atau wilayah kerajaan. Penguasa Kasunanan Surakarta saat ini adalah Sunan Pakubuwana XIII, dan penguasa Praja Mangkunegaran saat ini adalah Adipati Mangkunegara IX. Kedua penguasa monarki seremonial ini tidak memiliki kekuasaan politik di Surakarta.

Secara yuridis Kota Surakarta terbentuk berdasarkan Penetapan Pemerintah tahun 1946 Nomor 16/SD, yang diumumkan pada tanggal 15 Juli. Dengan berbagai pertimbangan faktor-faktor historis sebelumnya, tanggal 16 Juni 1946 ditetapkan sebagai hari jadi Pemerintah Daerah Kota Surakarta.

Wali kota solo

Wali kota Surakarta sejak Juli 2015 dijabat oleh pejabat sementara, merangkap sebagai Sekretaris Daerah, Boeddy Soeharto. Sebelumnya jabatan ini dijabat oleh F.X. Hadi Rudyatmo yang menggantikan Ir. Joko Widodo yang dilantik menjadi gubernur DKI Jakarta tanggal 15 Oktober 2012. Pasangan wali kota dan wakil wali kota, yang sering disebut sebagai Jokowi-Rudy, pertama kali terpilih sebagai wali kota Surakarta untuk masa bakti 2005-2010. Kemudian pasangan dari PDI-P ini terpilih lagi untuk masa bakti kedua dengan perolehan suara lebih dari 90% untuk masa jabatan 2010-2015.

Di bawah kepemimpinan Jokowi dan Rudy, Surakarta mengalami perubahan yang pesat. Para pedagang barang bekas di Taman Banjarsari dapat direlokasi hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka. Investor diberi syarat untuk mau memikirkan kepentingan publik. Komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) diadakan secara rutin dengan masyarakat.

Taman Balekambang, yang telantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Sebagai tindak lanjut branding, Jokowi mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Sejak 1 Oktober 2012 Wali Kota Surakarta Ir. Joko Widodo mengundurkan diri dari jabatan wali kota setelah terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2012 – 2017.

Oleh Majalah Tempo, Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008”.

Pada tanggal 17 April 2013, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo resmi melantik Dr. H. Achmad Purnomo sebagai wakil wali kota Surakarta menggantikan F.X. Hadi Rudyatmo yang menjadi wali kota Surakarta.

Julukan dan semboyan solo

Surakarta memiliki semboyan “Berseri”, akronim dari “Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah”, sebagai slogan pemeliharaan keindahan kota. Untuk kepentingan pemasaran pariwisata, Surakarta mengambil slogan pariwisata Solo. The Spirit of Java (Jiwanya Jawa)sebagai upaya pencitraan kota Surakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Slogan Solo The Spirit of Java diperoleh dari hasil sayembara yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surakarta pada 4 Oktober sampai 14 November 2005 yang dimenangkan oleh Dwi Endang Setyorini (warga Giriroto, Ngemplak, Boyolali). Logonya, dikerjakan oleh perusahaan periklanan pemenang pitching (tender), yaitu Freshblood Indonesia (Surakarta) dan didampingi oleh tim konsultan desain Optimaxi (Jakarta) di bawah pengawasan GTZ dalam rangkaian program Regional Economic Development (RED) atau GTZ-RED.

Perancangan logo berlangsung sekitar enam bulan di Surakarta. Selama masa itu diselenggarakan sesi konsultasi dengan Badan Koordinasi Antar Daerah (BKAD) dan tokoh masyarakat, yang puncak sosialisasinya digelar di Ballroom Hotel Quality (The Sunan Hotel saat ini), dihadiri beragam kalangan sebagai representasi wilayah Solo Raya.

Tim perancang bekerja dengan bekal slogan hasil sayembara dan dituntut menjabarkan konsep Spirit of Java dalam wujud visual. Identitas visual yang berupa tulisan ”Solo” beserta slogan di bawahnya dengan aksen huruf ”O” berbentuk relung diperoleh dari ekstraksi konsep visual yang merefleksikan kesan Jawa dalam tampilannya. Relung dalam logo bisa saja mengingatkan orang pada ornamen keris, batik, atau mebel yang merujuk pada wilayah (Jawa).

Selain itu Kota Surakarta juga memiliki beberapa julukan, antara lain Kota Batik, Kota Budaya, Kota Liwet. Penduduk Surakarta disebut sebagai wong Solo, dan istilah putri Solo juga banyak digunakan untuk menyebut wanita yang memiliki karakteristik mirip wanita dari Surakarta.

Kependudukan kota solo

Salah satu sensus paling awal yang dilakukan di wilayah Karesidenan Surakarta (Residentie Soerakarta) pada tahun 1885 mencatat terdapat 1.053.985 penduduk, termasuk 2.694 orang Eropa dan 7.543 orang Tionghoa. Wilayah seluas 5.677 km² tersebut memiliki kepadatan 186 penduduk/km². Ibukota karesidenan tersebut sendiri pada tahun 1880 memiliki 124.041 penduduk.

Jumlah penduduk kota Surakarta pada tahun 2010 adalah 503.421 jiwa, terdiri dari 270.721 laki-laki dan 281.821 wanita, yang tersebar di lima kecamatan yang meliputi 51 kelurahan dengan daerah seluas 44,1 km2. Perbandingan kelaminnya 96,06% yang berarti setiap 100 orang wanita terdapat 96 orang laki-laki. Angka ketergantungan penduduknya sebesar 66%. Catatan dari tahun 1880 memberikan cacah penduduk 124.041 jiwa.

Pertumbuhan penduduk dalam kurung 10 tahun terakhir berkisar 0,565 % per tahun. Tingkat kepadatan penduduk di Surakarta adalah 11.370 jiwa/km2, yang merupakan kepadatan tertinggi di Jawa Tengah (kepadatan Jawa Tengah hanya 992 jiwa/km2).

Jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, kota Surakarta merupakan kota terpadat di Jawa Tengah dan ke-8 terpadat di Indonesia, dengan luas wilayah ke-13 terkecil, dan populasi terbanyak ke-22 dari 93 kota otonom dan 5 kota administratif di Indonesia.
Kecamatan terpadat di Surakarta adalah Pasar Kliwon, yang luasnya hanya sepersepuluh luas keseluruhan Surakarta, sedangkan Laweyan merupakan kecamatan dengan kepadatan terendah. Laju pertumbuhan penduduk Surakarta selama 2000-2010 adalah 0,25%, jauh di bawah laju pertumbuhan penduduk Jawa Tengah sebesar 0,46%.

Jika wilayah penyangga Surakarta juga digabungkan secara keseluruhan (Solo Raya: Surakarta, Kartasura, Colomadu, Ngemplak, Baki, Grogol, Palur), maka luasnya adalah 130 km². Penduduknya lebih dari 800.000 jiwa.

Pendidikan di Solo

Menurut Data Pokok Pendidikan (Dapodik) pada tahun ajaran 2010/2011 terdapat 68.153 siswa dan 869 sekolah di Surakarta, dengan perincian: 308 TK/RA, 292 SD/MI, 97 SMP/MTs, 56 SMA/MA, 46 SMK, 54 PT, dan 16 sekolah lain.[21] Di Surakarta terdapat dua universitas besar, yaitu Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS),keduanya memiliki lebih dari 20.000 mahasiswa aktif dan termasuk katagori 50 universitas terbaik di Indonesia.

Demikian pula terdapat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta . Selain itu terdapat 52 universitas swasta lainnya seperti Unisri, Universitas Tunas Pembangunan, Universitas Setia Budi, STIKES Muhammadiyah, Universitas Islam Batik, dll. Surakarta juga kini menjadi tempat tujuan studi para lulusan SMA dari seluruh Indonesia.

Perekonomian dan perdagangan solo

Pusat perdagangan batik di Pusat Grosir Solo.
Industri batik menjadi salah satu industri khas Surakarta. Sentra kerajinan batik dan perdagangan batik antara lain di Laweyan dan Kauman. Pasar Klewer serta beberapa pasar batik tradisional lain menjadi salah satu pusat perdagangan batik di Indonesia. Perdagangan di Surakarta berada di bawah naungan Dinas Industri dan Perdagangan.

Selain Pasar Klewer, Surakarta juga memiliki banyak pasar tradisional, di antaranya Pasar Gedhe (Pasar Besar), Pasar Legi, dan Pasar Kembang. Pasar-pasar tradisional yang lain menggunakan nama-nama dalam bahasa Jawa, antara lain nama pasaran (hari) dalam Bahasa Jawa: Pasar Pon, Pasar Legi, sementara Pasar Kliwon saat ini menjadi nama kecamatan dan nama pasarnya sendiri berubah menjadi Pasar Sangkrah.
Selain itu ada pula pasar barang antik yang menjadi tujuan wisata, yaitu Pasar Triwindu/Windu Jenar (setiap Sabtu malam diubah menjadi Pasar Ngarsopuro) serta Pasar Keris dan Cinderamata Alun-Alun Utara Keraton Surakarta.

Pusat bisnis kota Surakarta terletak di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Beberapa bank, hotel, pusat perbelanjaan, restoran internasional, hingga tujuan wisata dan hiburan terletak di sepanjang jalan protokol ini, termasuk Graha Soloraya, Loji Gandrung (rumah dinas wali kota).

Pada hari minggu pagi, jalanan Slamet Riyadi khusus ditutup bagi kendaraan bermotor, untuk digunakan sebagai ajang Solo Car Free Day, sebagai bagian dari tekad pemda untuk mengurangi polusi. Beberapa mal modern di Surakarta antara lain Solo Square, Solo Grand Mall (SGM), Solo Paragon, Solo Center Point (SCP), Singosaren Plaza, Pusat Grosir Solo (PGS), Beteng Trade Center (BTC), Hartono Mall Solo Baru, Pusat Perbelanjaan Luwes (Ratu Luwes, Sami Luwes, Luwes Sangkrah, Luwes Gading, Luwes Nusukan, Luwes Mojosongo, Luwes Palur), dan Palur Plaza.

Surakarta memiliki beberapa pabrik yang mempekerjakan karyawan dalam jumlah yang besar antara lain Sritex, Konimex, dan Jamu Air Mancur. Selain itu masih ada banyak pabrik-pabrik lain di zona industri Palur. Industri batik juga menjadi salah satu industri khas Surakarta.

Keberagaman di solo

Bangunan ibadah bersejarah di Surakarta beragam, yang mencerminkan keberagaman kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Surakarta, mulai dari masjid terbesar dan paling sakral yang terletak di bagian barat Alun-alun Utara Keraton Kasunanan, Surakarta, yaitu Masjid Agung Surakarta yang dibangun sekitar tahun 1763 atas prakarsa dari Sunan Pakubuwana III, Masjid Al Wustho Mangkunegaran, Masjid Laweyan yang merupakan masjid tertua di Surakarta[24], Gereja St. Petrus di Jl. Slamet Riyadi, Gereja St. Antonius Purbayan, hingga Tempat Ibadah Tri Dharma Tien Kok Sie, Vihara Am Po Kian, dan Sahasra Adhi Pura.

Selain dihuni oleh Suku Jawa, ada banyak pula penduduk beretnis Tionghoa, dan Arab yang tinggal di Surakarta. Walaupun tidak ada data pasti berapa jumlah masing-masing kepercayaan maupun etnis penduduk dalam sensus terakhir (2010), namun mereka banyak membaur di tengah-tengah warga Surakarta pada umumnya.

Perkampungan Arab menempati tiga wilayah kelurahan, yaitu Kelurahan Pasar Kliwon, Semanggi dan Kedung Lumbu di Kecamatan Pasar Kliwon[26] Penempatan kampung Arab secara berkelompok tersebut sudah diatur sejak zaman dulu untuk mempermudah pengurusan bagi etnis asing di Surakarta dan demi terwujudnya ketertiban dan keamanan. Etnis Arab mulai datang di Pasar Kliwon diperkirakan sejak abad ke-19.

Terbentuknya perkampungan di Pasar Kliwon, selain disebabkan oleh adanya politik permukiman pada masa kerajaan, juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah kolonial. Warto dalam penelitiannya menyebutkan pada tahun 1984, jumlah keturunan Arab adalah 1.877 jiwa, sementara jumlah warga Tionghoa adalah 103 jiwa. Berdasarkan data monografi kelurahan Pasar Kliwon tahun 2005, menyebutkan bahwa jumlah keturunan Arab adalah 1.775 jiwa, sedangkan keturunan Tionghoa adalah 135 jiwa. Dari data tersebut dapat dilihat adanya penurunan jumlah penduduk keturunan Arab di Pasar Kliwon. Hal ini disebabkan karena lahan di kelurahan Pasar Kliwon semakin sempit sehingga terjadi perpindahan di daerah lain.

Sementara itu perkampungan Tionghoa banyak terfokus di wilayah Balong, Coyudan, dan Keprabon. Hal ini dapat dilihat dengan adanya bangunan-bangunan kelenteng dan tempat ibadah, seperti Kelenteng Tien Kok Sie.

Layanan publik solo

Beberapa rumah sakit bersejarah antara lain RS Kadipolo dan Rumah Sakit Panti Kosala (Kandang Sapi). Sementara rumah sakit lain dengan fasilitas UGD 24 jam antara lain RSUD Moewardi, RS PKU Muhammadiyah, RS Islam Surakarta (Yarsis), RS Kustati, RS Kasih Ibu, RS Panti Waluyo, RS Brayat Minulyo, dan RS Dr. Oen Solo Baru. RS Ortopedi Dr. Soeharso adalah salah satu pusat ortopedi terkemuka di Indonesia yang pernah menjadi pusat rujukan tulang nasional.

Surakarta juga memiliki beberapa taman, antara lain Taman Balekambang, Taman Tirtonadi, Taman Sekartaji, Taman Sriwedari, yang juga merangkap sebagai tempat hiburan, tempat pagelaran musik dangdut dan wayang orang, tepatnya di Gedung Wayang Orang Sriwedari. Tempat ini menyajikan seni pertunjukan daerah wayang orang yang menyajikan cerita wayang berdasarkan pada cerita Ramayana dan Mahabarata.

Pada kesempatan tertentu juga digelar cerita-cerita wayang orang gabungan antara wayang orang sriwedari dengan wayang orang RRI Surakarta dan bahkan dengan seniman-seniman wayang orang Jakarta, Semarang, ataupun Surabaya. Tempat hiburan umum lainnya adalah Kebun Binatang Jurug (Taman Satwataru Jurug), yaitu salah satu dari kebun binatang terbesar dan tertua di Indonesia.

Tempat pemakaman umum di Surakarta antara lain adalah TPU Purwoloyo, TPU Utoroloyo, TMP Kusuma Bakti, TPU Pucang Sawit, dan pemakaman Tionghoa yang terletak di kecamatan Jebres, TPU Bonoloyo, Astana Utara Nayu, dan Astana Bibis Luhur yang terletak di kecamatan Banjarsari, TPU Pracimoloyo maupun TPU Daksinoloyo di perbatasan Kabupaten Sukoharjo. Karena jumlah lahannya yang terbatas, saat ini banyak anggota masyarakat yang memilih untuk menguburkan orang yang sudah meninggal di pemakaman-pemakaman. Yang terletak di luar batas kota Surakarta, misalnya pemakaman Kristen di Jeruksawit, Karanganyar, kompleks pemakaman Delingan di Karanganyar, dll. Khusus bagi raja-raja keraton Surakarta, bagi raja yang meninggal akan dimakamkan di pemakaman hereditas di Makam Imogiri di puncak sebuah bukit 12 km di sebelah selatan Yogjakarta.

Kode area untuk kota Surakarta adalah 0271 (+6271). Telepon umum koin/kartu jarang dijumpai, sebagai gantinya, beberapa wartel tersebar di berbagai sudut kota. Selain itu mereka juga biasanya menjual pulsa prabayar. Warnet juga banyak dijumpai di berbagai tempat, sedangkan beberapa tempat sudah mulai menyediakan fasilitas Wi-Fi untuk para pengunjungnya.

Kesehatan warga di Solo

Rumah sakit
Kota Surakarta dan wilayah sekitarnya mempunyai beberapa rumah sakit, di antaranya:

Rumah Sakit Umum Dr. Moewardi (Rumah Sakit Jebres)
Rumah Sakit Islam Kustati
Rumah Sakit Islam Yarsis Surakarta
Rumah Sakit Dr. Oen Surakarta (Kandang Sapi)
Rumah Sakit Ortopedi Dr. Soeharso
Rumah Sakit Panti Waluyo
Rumah Sakit Slamet Riyadi (DKT)
Rumah Sakit AURI Adi Sumarmo
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Rumah Sakit Kasih Ibu
Rumah Sakit Brayat Minulyo
Rumah Sakit Dr. Oen Solo Baru
Rumah Sakit Jiwa Surakarta
Rumah Sakit Jiwa Panti Rapih
Rumah Sakit Bersalin Triharsi
Rumah sakit Kadipolo
Rumah Sakit Jiwa Surakarta
Rumah Sakit Jiwa Syaraf Puri Waluyo
Rumah Sakit Jiwa Dewantoro

Puskesmas
Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) di Surakarta antara lain:

Puskesmas Pajang
Puskesmas Penumping
Puskesmas Purwosari
Puskesmas Jayengan
Puskesmas Kratonan
Puskesmas Gajahan
Puskesmas Sangkrah
Puskesmas Purwodiningratan
Puskesmas Ngoresan
Puskesmas Sibela
Puskesmas Pucangsawit
Puskesmas Nusukan
Puskesmas Manahan
Puskesmas Gilingan
Puskesmas Banyuanyar
Puskesmas Setabelan
Puskesmas Gambirsari

Olahraga di kota solo

Kota Surakarta memiliki sejarah olahraga yang cukup lama. Tahun 1923 di Surakarta telah terbentuk klub sepak bola, salah satu klub yang pertama di Indonesia yang kala itu masih bernama Hindia Belanda, yang bernama Persis Solo. Persis Solo adalah raksasa sepak bola di Hindia Belanda yang masih eksis hingga saat ini, Persis pernah menjuarai kompetisi Perserikatan sebanyak 7 kali dan saat ini bermain di Divisi Utama Liga Indonesia.

Selain Persis Solo, tercatat beberapa klub sepak bola lain pernah hadir di Surakarta, antara lain Arseto Solo, Pelita Solo, Persijatim Solo FC, dan terakhir adalah kontestan Liga Primer Indonesia, Solo FC yang baru terbentuk pada tahun 2010. Kedua tim sepak bola yang masih eksis saat ini, yaitu Persis Solo dan Solo FC, bermarkas di Stadion Manahan, sebuah stadion tipe Stadion Madya Olimpiade kategori B+ dan salah satu stadion terbaik di Jawa Tengah yang pernah beberapa kali menjadi tempat penyelenggaraan even olahraga tingkat nasional dan internasional.

Di stadion yang memiliki kapasitas 25.000 penonton ini antara lain pernah menjadi tempat pertandingan Liga Champions AFC 2007 karena Persik tidak punya stadion kandang memadai, final Piala Indonesia 2010, pembukaan Liga Primer Indonesia musim pertama pada 15 Januari 2011[35], dan menjadi penyelenggara ASEAN Paragames 2011. Jika awalnya Manahan merupakan tanah lapang tempat olahraga memanah, stadion ini beberapa kali berubah fungsinya, mulai dari tempat balapan kuda, hingga saat ini difungsikan sebagai lapangan sepak bola.
Dan ketika malam hari dan hari Minggu berubah menjadi kawasan sosial bagi warga kota Surakarta. Kebudayaan serta olahraga memanah dan pacuan kuda sendiri saat ini sudah sangat jarang ditemukan di kota Surakarta.
Pada tahun 1948, Surakarta juga dipercaya untuk menyelenggarakan pertama, yang tanggal pembukaannya masih diperingati sebagai Hari Olahraga Nasional. Pada kejuaraan itu, Surakarta yang berlaga mewakili Karesidenan Surakarta berhasil merebut gelar juara umum.

Sedangkan hingga tahun 2009, Surakarta juga memiliki satu-satunya klub basket profesional di Jawa Tengah, yaitu Bhinneka Solo. Beberapa gelanggang olahraga di kota Surakarta antara lain Stadion Manahan dan Stadion Sriwedari untuk olahraga sepak bola dan GOR Bhinneka, yang kini berganti nama menjadi Stadion Sritex.

Transportasi di solo

Kota Surakarta terletak di pertemuan antara jalur selatan Jawa dan jalur Semarang-Madiun, yang menjadikan posisinya yang strategis sebagai kota transit. Jalur kereta api dari jalur utara dan jalur selatan Jawa juga terhubung di kota ini. Saat ini sebuah jalan tol – Jalan Tol Semarang-Solo – yang menghubungkan ke Semarang sedang dalam proses pembangunan. Surakarta juga merupakan kota yang terkurung daratan, sehingga tidak memiliki moda transportasi air.

Angkutan darat di solo

Taksi adalah salah satu moda transportasi yang sering dijumpai. Dari bandara, turis dapat memesan tiket dengan menyebutkan tujuannya dan membayar ongkos taksi di muka. Beberapa jasa pelayanan taksi antara lain Aravia (636468), Solo Central Taksi (728728), Kosti (664504,856300), Mahkota Ratu (655666). Sementara itu beberapa persewaan mobil juga dapat ditemu di bandara.

Jasa transportasi tradisional yang terkenal lainnya adalah becak, yang dikayuh dengan tenaga manusia. Angkutan umum dalam kota yang lain mencakup bus kota, angkot, dan andong.

Bus
Terminal bus besar kota ini bernama Terminal Tirtonadi yang beroperasi 24 jam karena merupakan jalur antara yang menghubungkan angkutan bus dari Jawa Timur (terutama Surabaya dan Banyuwangi) dan Jawa Barat (Bandung). Selain Tirtonadi, terdapat pula dua terminal untuk angkutan lokal: Terminal Harjodaksino di sisi selatan kota (dulu merupakan terminal bus antarkota) dan Terminal Tipes di sisi barat kota.

Selain itu, dua terminal penunjang terdapat pula di sekitar kota namun berada di luar pengelolaan pemerintah kota, yaitu Terminal Kartasura di barat, yang terhubung ke Jakarta dan Surabaya, dan Terminal Palur di timur kota.

Selain itu pada tahun 2010 diluncurkan angkutan umum massal bus Batik Solo Trans. Saat ini bus rapid transit Batik Solo Trans telah memiliki dua koridor.

Kereta api di solo

Stasiun kereta api utama bernama Stasiun Solo Balapan yang merupakan salah satu stasiun besar tertua di Indonesia (dibangun 1873) yang menghubungkan Yogyakarta (barat), Semarang (utara), dan Surabaya (timur), dan terletak berdekatan dengan terminal bus Tirtonadi, suatu hal yang jarang dijumpai di Indonesia. Hubungan perjalanan dari setasiun ini cukup baik, mencakup semua kota besar di Jawa secara langsung dan hampir dalam semua kelas.

Di Kota Surakarta juga terdapat tiga stasiun kereta api lain. Stasiun Solo Jebres dipakai sebagai stasiun perhentian untuk kereta-kereta api kelas ekonomi atau kereta api relasi Semarang-Madiun. Stasiun Solo-Kota (Sangkrah) merupakan stasiun perhentian untuk jalur KA Purwosari-Wonogiri. Stasiun Purwosari di tepi barat kota merupakan stasiun cabang menuju Wonogiri (selatan).

Selain itu transportasi Surakarta juga memiliki keunikan tersendiri karena merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki rel kereta api yang paralel dengan jalan raya, tepatnya di sepanjang jalan protokol Slamet Riyadi. Di jalur ini terdapat rel Railbus Batara Kresna dan juga difungsikan sebagai jalur kereta api wisata Sepur Kluthuk Jaladara yang berhenti di Loji Gandrung (kantor wali kota Surakarta) dan Kampung Batik Kauman.

Pesawat terbang di solo

Bandar Udara Internasional Adi Sumarmo (kode SOC, dulu bernama “Panasan”) terletak 14 kilometer di sebelah utara kota Surakarta. Secara administratif banda udara ini terletak di luar batas kota Surakarta, tepatnya di perbatasan Kabupaten Karanganyar dan Boyolali. Bandara ini terhubung ke Jakarta (8-penerbangan sehari), Kuala Lumpur, Singapura & Bandar Seri Begawan, serta Arab Saudi (pada musim haji).

Waktu tempuh perjalanan udara dengan Jakarta berlangsung sekitar satu jam. Beberapa operator penerbangan yang melayani rute dari/ke kota Surakarta antara lain Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, Lion Air, Malaysia Airlines, Singapore Airlines & Royal Brunei Airlines. Bandara Adi Sumarmo juga menjadi pusat pemberangkatan dan penerimaan haji dari Asrama Haji Donohudan, Boyolali.

Pariwisata.
Tratag Sasana Sewayana Siti Hinggil Lor di Keraton Surakarta. Siti Hinggil secara harafiah berarti “tanah tinggi”. Terletak di antara Kori Kamandungan Lor dan Pagelaran Sasana Sumewa.
Surakarta juga dikenal sebagai daerah tujuan wisata yang biasa didatangi oleh wisatawan dari kota-kota besar. Biasanya wisatawan yang berlibur ke Yogyakarta juga akan singgah di Surakarta, atau sebaliknya. Tujuan wisata utama kota Surakarta adalah Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, dan kampung-kampung batik serta pasar-pasar tradisionalnya.

Di Surakarta terdapat beberapa citywalk yang ditujukan untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda, antara lain di koridor Ngarsopuro, di sepanjang Jalan Slamet Riyadi (sepanjang 6–7 km dan selebar 3 m), dan di sepanjang Jalan Perintis Kemerdekaan. Tempat-tempat yang ditunjuk sebagai citywalk tidak boleh dilalui oleh kendaraan bermotor.

Wisata alam solo.

Wisata-wisata alam di sekitar Surakarta antara lain Kawasan Wisata Tawangmangu (berada di Kabupaten Karanganyar), Kawasan Wisata Selo (berada di Kabupaten Boyolali), Agrowisata Kebun Teh Kemuning, Air Terjun Jumog, Air Terjun Parang Ijo, Air Terjun Segoro Gunung, Grojogan Sewu, dan lain-lain. Selain itu di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di lereng Gunung Lawu, terdapat beberapa candi peninggalan kebudayaan Hindu-Buddha, seperti Candi Sukuh, Candi Cetho, Candi Monyet, dan lain-lain.

Festival dan perayaan.
Setiap tahun pada tanggal-tanggal tertentu Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran mengadakan berbagai macam perayaan yang menarik. Perayaan tersebut pelaksanaannya berdasarkan pada penanggalan Jawa. Perayaan-perayaan tersebut antara lain:

Sekaten.
Suasana kirab gunungan saat Grebeg Mulud di Keraton Surakarta.
Sekaten diadakan setiap bulan Mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tanggal 12 Mulud diselenggarakan Grebeg Mulud. Kemudian diadakan pesta rakyat selama dua minggu. Selama dua minggu ini pesta rakyat diadakan di Alun-Alun Utara. Pesta rakyat menyajikan pasar malam, arena permainan anak dan pertunjukan-pertunjukan seni dan akrobat. Pada hari terakhir sekaten, diadakan kembali acara grebeg di Alun-Alun Utara. Upacara sekaten diadakan pertama kali pada masa pemerintahan Kesultanan Demak.[39]

Grebeg Sudiro.
Grebeg Sudiro diadakan untuk memperingati Tahun Baru Imlek dengan perpaduan budaya Tionghoa-Jawa. Festival yang dimulai sejak 2007 ini biasa dipusatkan di daerah Pasar Gedhe dan Balong (di Kelurahan Sudiroprajan) dan Balai Kota Surakarta.[40]

Grebeg Mulud di solo

Diadakan setiap tanggal 12 Mulud untuk memperingati hari Maulud Nabi Muhammad SAW. Grebeg Mulud merupakan bagian dari perayaan Sekaten. Dalam upacara ini para abdi dalem dengan berbusana Jawi Jangkep Sowan Keraton mengarak gunungan (pareden) dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung Surakarta. Gunungan terbuat dari berbagai macam sayuran dan penganan tradisional. Setelah didoakan oleh ngulamadalem (ulama keraton), satu buah gunungan kemudian akan diperebutkan oleh masyarakat pengunjung dan satu buah lagi dibawa kembali ke keraton untuk dibagikan kepada para abdi dalem.

Tarian Sakral Bedhaya Ketawang.
Diadakan setiap tanggal 2 Ruwah untuk memperingati hari ulang tahun penobatan Sri Susuhunan Surakarta. Dalam acara ini sang raja duduk di atas dampar (singgasana) di Pendapa Agung Sasana Sewaka dengan dihadap oleh para abdi dalem dan bangsawan sambil menyaksikan tari sakral, Tari Bedhaya Ketawang, yang ditarikan oleh sembilan remaja putri yang belum menikah. Para penari terdiri dari para wayahdalem, sentanadalem, dan kerabat raja lainnya atau dapat juga penari umum yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan.

Grebeg Pasa
Grebeg ini diadakan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal. Acara ini berlangsung setelah melakukan Salat Ied. Prosesi acaranya sama dengan Grebeg Mulud yaitu para abdi dalem mengarak gunungan dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung Surakarta untuk didoakan oleh ulama keraton kemudian dibagikan kepada masyarakat pengunjung.

Syawalan di solo

Syawalan mulai diadakan satu hari setelah Hari Raya Idul Fitri dan berlangsung di Taman Satwataru Jurug di tepi Bengawan Solo. Pada puncak acara yaitu “Larung Gethek Jaka Tingkir” diadakan pembagian ketupat pada masyarakat pengunjung. Pada acara syawalan juga diadakan berbagai macam pertunjukan kesenian tradisional.

Grebeg Besar
Berlangsung pada hari Idul Adha (tanggal 10 Besar). Upacara sama dengan prosesi gunungan pada Grebeg Pasa dan Grebeg Mulud.

Solo Batik Carnival
Karnaval Batik Solo atau Solo Batik Carnival adalah sebuah festival tahunan yang diadakan oleh pemerintah Kota Surakarta dengan menggunakan batik sebagai bahan utama pembuatan kostum. Para peserta karnaval akan membuat kostum karnaval dengan tema-tema yang di tentukan. Para peserta akan mengenakan kostumnya sendiri dan berjalan di atas catwalk yang berada di Jalan Slamet Riyadi. Karnaval ini diadakan setiap tahun pada bulan Juni sejak tahun 2008.

Solo Batik Fashion

Demikian pula Solo Batik Fashion adalah sebuah peragaan busana batik tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah di tempat-tempat terbuka supaya dapat dinikmati oleh segenap warga Surakarta. Peragaan batik ini diadakan setiap tahun pada bulan Juli sejak tahun 2009.

Deretan penjual makanan tradisional Surakarta di Galabo.
Solo terkenal dengan banyaknya jajanan kuliner tradisional. Beberapa makanan khas Surakarta antara lain: sate kambing, nasi liwet, nasi timlo, nasi gudeg dan gudeg cakar, pecel desa, cabuk rambak, bestik solo, selat Solo, bakso solo, serabi solo, intip, tengkleng, roti mandarin, sosis solo, kambing guling, sate buntel, sate kere, dll.
Beberapa minuman khas Surakarta antara lain: wedang asle yaitu minuman hangat dengan nasi ketan, wedang dawet gempol pleret (gempol terbuat dari sejenis tepung beras, sedangkan pleret terbuat dari ketan dan gula merah), jamu beras kencur, yaitu jamu kesehatan yang berbeda dari jamu yang lain karena rasanya yang manis, dll. Sementara itu, koridor Gladag setiap malam diubah menjadi pusat jajanan terbesar di Kota Surakarta dengan nama Galabo (Gladang Langen Bogan).

Arsitektur dan peninggalan sejarah di solo

Karena sejarahnya, terdapat banyak bangunan bersejarah di Surakarta, mulai dari bangunan ibadah, bangunan umum, keraton, hingga bangunan militer. Selain Keraton Surakarta (dibangun 1745) dan Pura Mangkunagaran (dibangun 1757), terdapat pula Benteng Vastenburg peninggalan Belanda dan Loji Gandrung yang saat ini digunakan sebagai kediaman Wali Kota Surakarta. Sebelumnya, bangunan peninggalan Kolonial yang sampai saat ini masih utuh kondisinya ini selain digunakan sebagi tempat kediaman pejabat pemerintah Belanda, juga sering digunakan untuk dansa-dansi gaya Eropa dan bangsawan Jawa, sehingga disebut sebagai “Gandrung”.

Pada tahun 1997 telah didata 70 peninggalan sejarah di Surakarta yang meliputi tempat bersejarah, rumah tradisional, bangunan kolonial, tempat ibadah, pintu gerbang, monumen, furnitur jalan, dan taman kota.

Lansekap kota Surakarta juga dikenal tidak memiliki bangunan pencakar langit. Namun sejak 2010, di Surakarta terdapat sebuah apartemen pencakar langit, yaitu Solo Paragon.

Museum dan perpustakaan di solo

Museum batik yang terlengkap di Indonesia, yaitu House of Danar Hadi, dan museum tertua di Indonesia, yaitu Museum Radya Pustaka, terletak di Jalan Slamet Riyadi, Surakarta. Museum Radya Pustaka yang dibangun pada tanggal 28 Oktober 1890 oleh KRA. Sosrodiningrat IV, pepatih dalem pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwana IX dan Sunan Pakubuwana X, museum ini memiliki artefak-artefak kuno kebudayaan Jawa dan bertempat di kompleks Taman Wisata Budaya Sriwedari. Selain itu ada pula Museum Keraton Surakarta (termasuk perpustakaan Sasana Pustaka), Museum Pura Mangkunegaran (termasuk perpustakaan Reksa Pustaka), Museum Pers, Museum Sangiran (terletak di Kabupaten Sragen), dan Museum Lukis Dullah.

Selain museum, terdapat pula sebuah situs budaya bernama Balai Sudjatmoko. Bangunan ini adalah rumah Sudjatmoko yang di dalamnya masih bisa dilihat karya-karya dan peninggalan Sudjatmoko baik dalam bentuk buku, kaca mata, toga, dan foto-foto asli dokumenter koleksi pribadi keluarga Sudjatmoko.

Balai Sudjatmoko difungsikan oleh pengelolanya sebagai pusat apresiasi baik pementasan, pertunjukan, pameran, bedah buku dan sarasehan. Para seniman juga diberi kesempatan luas untuk memanfaatkan Balai Sudjatmoko untuk melakukan apresiasi seni dalam bentuk pameran baik pameran lukisan, patung, kriya sampai dengan pameran pendidikan. Di samping itu, Balai ini juga dapat dijadikan sebagai alternatif wahana pembelajaran bagi orang non seni.

Budaya wong solo

Surakarta dikenal sebagai salah satu inti kebudayaan Jawa karena secara tradisional merupakan salah satu pusat politik dan pengembangan tradisi Jawa. Kemakmuran wilayah ini sejak abad ke-19 mendorong berkembangnya berbagai literatur berbahasa Jawa, tarian, seni boga, busana, arsitektur, dan bermacam-macam ekspresi budaya lainnya. Orang mengetahui adanya “persaingan” kultural antara Surakarta dan Yogyakarta, sehingga melahirkan apa yang dikenal sebagai “Gaya Surakarta” dan “Gaya Yogyakarta” di bidang busana, gerak tarian, seni tatah kulit (wayang), pengolahan batik, gamelan, dan sebagainya.

Bahasa solo

R. Ng. Ranggawarsita adalah pujangga besar sastra dan budaya Jawa yang lahir dan hidup di Surakarta. Ia dianggap sebagai pujangga besar terakhir tanah Jawa.
Bahasa yang digunakan di Surakarta adalah Bahasa Jawa Dialek Mataraman dengan varian Surakarta. Dialek Mataraman juga dituturkan di daerah Yogyakarta, Semarang, Madiun, hingga sebagian besar Kediri. Meskipun demikian, varian lokal Surakarta ini dikenal sebagai “varian halus” karena penggunaan kata-kata krama yang meluas dalam percakapan sehari-hari, lebih luas daripada yang digunakan di tempat lain. Bahasa Jawa varian Surakarta digunakan sebagai standar Bahasa Jawa nasional (dan internasional, seperti di Suriname). Beberapa kata juga mengalami spesifikasi, seperti pengucapan kata “inggih” (“ya” bentuk krama) yang penuh (/iŋgɪh/), berbeda dari beberapa varian lain yang melafalkannya “injih” (/iŋdʒɪh/), seperti di Yogyakarta dan Magelang. Dalam banyak hal, varian Surakarta lebih mendekati varian Madiun-Kediri, daripada varian wilayah Jawa Tengahan lainnya.

Pernikahan adat solo

Pernikahan adat Surakarta juga memiliki ciri-ciri yang khusus, mulai dari lamaran, persiapan pernikahan, hingga upacara siraman dan midodaren.

Tarian.
Surakarta memiliki beberapa tarian daerah seperti Bedhaya (Ketawang, Dorodasih, Sukoharjo, dll.) dan Srimpi (Gandakusuma dan Sangupati). Tarian ini masih dilestarikan di lingkungan Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran sebagai pusat pengembangan dan pelestarian kebudayaan Jawa. Tarian seperti Bedhaya Ketawang misalnya, secara resmi hanya ditarikan sekali dalam setahun untuk menghormati Sri Susuhunan Surakarta sebagai pemimpin Kota Surakarta.

Batik solo

Batik adalah kain dengan corak atau motif tertentu yang dihasilkan dari bahan malam khusus (wax) yang dituliskan atau di cap pada kain tersebut, meskipun kini sudah banyak kain batik yang dibuat dengan proses cetak. Surakarta memiliki banyak corak batik khas, seperti Sidomukti dan Sidoluruh. Beberapa usaha batik terkenal adalah Batik Keris, Batik Danarhadi, dan Batik Semar. Sementara untuk kalangan menengah dapat mengunjungi pusat perdagangan batik di kota ini berada di Pasar Klewer, Pusat Grosir Solo (PGS), Beteng Trade Center (BTC), atau Ria Batik.

Selain itu di kecamatan Laweyan juga terdapat Kampung Batik Laweyan, yaitu kawasan sentra industri batik yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajang tahun 1546. Kampung batik lainnya yang terkenal untuk para turis adalah Kampung Batik Kauman. Produk-produk batik Kampung Kauman dibuat menggunakan bahan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis premisima dan prima, rayon. Keunikan yang ditawarkan kepada para wisatawan adalah kemudahan transaksi sambil melihat-lihat rumah produksi tempat berlangsungnya kegiatan membatik.

Artinya, pengunjung memiliki kesempatan luas untuk mengetahui secara langsung proses pembuatan batik bahkan untuk mencoba sendiri mempraktikkan kegiatan membatik.

Batik Surakarta memiliki ciri pengolahan yang khas: warna kecoklatan (sogan) yang mengisi ruang bebas warna, berbeda dari gaya Yogyakarta yang ruang bebas warnanya lebih cerah. Pemilihan warna cenderung gelap, mengikuti kecenderungan batik pedalaman. Jenis bahan batik bermacam-macam, mulai dari sutra hingga katun, dan cara pengerjaannya pun beraneka macam, mulai dari batik tulis hingga batik cap. Setiap tahunnya Surakarta juga mengadakan Karnaval Batik Solo dan mulai tahun 2010 pemerintah kota Surakarta mengoperasikan bus yang bercorak batik bernama Batik Solo Trans.

Solo dalam budaya populer

Sungai Bengawan Solo menjadi inspirasi dari lagu yang diciptakan oleh Gesang pada tahun 1940-an. Lagu ini menjadi populer di negara-negara di Asia. Selain itu, sungai ini pun telah menjadi judul tiga film, yaitu dua film berjudul “Bengawan Solo” tahun 1949 dan 1971, serta satu film berjudul Di Tepi Bengawan Solo (1951). Film-film lain yang mengambil tema Surakarta antara lain adalah: Putri Solo (1953) dan Bermalam di Solo (1962).

Media solo

Ada beberapa surat kabar yang beroperasi di daerah Surakarta, antara lain Solo Pos, Radar Solo (grup Jawapos), dan Joglosemar (surat kabar Jogja, Solo, Semarang). Selain itu ada pula puluhan stasiun radio di Surakarta dan sebuah televisi lokal yang beroperasi di Surakarta, yaitu TA TV (Terang Abadi Televisi).

Tokoh-tokoh dari Solo

Tokoh-tokoh dari Surakarta meliputi raja-raja Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran, antara lain Mangkunegara I (Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa). Mangkunegara IV, yang pada masa pemerintahannya membawa Mangkunegaran menuju puncak kejayaan. Mangkunegara VII, serta Pakubuwana VI, yang mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro. Dan Pakubuwana X, yang mendukung pergerakan Sarekat Islam dan Budi Utomo.

Pahlawan dari Surakarta antara lain: Dr. Muwardi, Kiai Haji Samanhudi, pendiri Sarekat Dagang Islam, R. Maladi. Menteri Penerangan, Menteri Pemuda dan Olahraga, dan Ketua PSSI, Jenderal GPH. Djatikusumo, Kepala Staf TNI Angkatan Darat yang pertama (1948-1949), Muljadi Djojomartono. Menteri Sosial dan tokoh Muhammadiyah, Achmad Baiquni, ahli atom indonesia, Dr. Suharso, ahli ortopedi, lalu Dr. Supomo, Menteri Hukum dan HAM dan salah satu arsitek UUD 1945, Ir. Sedyatmo, pencipta struktur cakar ayam, Ir. Sutami. Menteri Pekerjaan Umum dan insinyur gedung DPR/MPR, dan Slamet Riyadi, dan dalam pemerintahan, Presiden Joko Widodo juga berasal dari Surakarta.

Dari bidang politik terdapat antara lain mantan ketua MPR Amien Rais dan Wiranto, sedangkan dari bidang seni dan sastra ada sederet tokoh, antara lain Basuki Abdullah, Gesang, Luluk Purwanto, Radjiman Wedyodiningrat, Rangga Warsita, Rendra, Teguh Srimulat, Waljinah, Wahjoe Sardono, Nunung, Yasadipura I, Yasadipura II, Didi Kempot, Setiawan Djodi, dan Mamiek Prakoso. Dari bidang olahraga terdapat petenis Wynne Prakusya, pelari tercepat di Asia Tenggara, Suryo Agung, pebalap Formula 1 Rio Haryanto, grandmaster Edhi Handoko, serta pebulutangkis Icuk Sugiarto, Rudy Gunawan, dan Bambang Suprianto.

Demikian tentang solo

solo

Demikian penjelasan tentang kota surakarta. Sempatkan mampir ke warung kami bila berkunjung ke kota karisidenan surakarta. Warung tengkleng bu jito dlidir dengan alamat di jalan kolonel sugiyono 67, surakarta.

Atau bisa phone ke :
0271 855 267 warung dlidir